Faidah Dialog Nabi Musa dengan Firaun (2)

 

Oleh : Zeynal Arifin, Lc, M.E.I*


Di setiap masa, kesewenang-wenangan seorang penguasa senantiasa dibantu oleh ketamakan para aparatnya. Demikian pada zaman Firaun. Demikian pula di setiap zaman berlaku. Pada zaman Firaun, para ahli sihir lah yang menjadi alat melanggengkan kekuasaan. Setelah Firaun kalah argumentasi, dimana setiap data dan fakta yang disodorkan Nabi Musa tidak bisa dibantah oleh Firaun, terlebih setelah Nabi Musa menyuguhkan dua mukjizat kepada Firuan, maka ia pun beralih menggunakan cara-cara culas. Ia menuduh Nabi Musa ingin berbuat makar dengan sihirnya. Dengan alasan itu, Firaun memanggil para ahli sihirnya untuk membungkam gerakan dakwah Nabi Musa.

Para ahli sihir tentu dengan senang hati menyambut proyek ini untuk mengeruk keuntungan; harta dan kedudukan!  Dalam surah Asy-Syu’ara ayat 41 dan 42 disebutkan:

فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالُوا لِفِرْعَوْنَ أَئِنَّ لَنَا لَأَجْرًا إِنْ كُنَّا نَحْنُ الْغَالِبِينَ (41) قَالَ نَعَمْ وَإِنَّكُمْ إِذًا لَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ (42)

Maka ketika para pesihir datang, mereka berkata kepada Fir’aun, “Apakah kami benar-benar akan mendapat imbalan yang besar jika kami yang menang?” Dia (Fir‘aun) menjawab, “Ya, dan bahkan kamu pasti akan mendapat kedudukan yang dekat (kepadaku).

Itulah dua motivasi para aparat kebatilan saat mereka mati-matian membela penguasa dan membuli penyeru kebenaran. Itu pulalah satu-satunya hal yang bisa diberikan penguasa yang zhalim. Tidak ada kepentingan agama, tidak ada pula kepentingan bangsa dan negara.


*Penulis adalah pengajar MAQ Al Ihsan, dan merupakan sekretaris Yayasan Al-Ihsan Kebagusan

Bagikan