ETIKA

Oleh : Aldi Sy* @asyahdan88

 

Agama Islam terus bertahan dan bisa menangkal gempuran paham SEPILIS (Sekuler,Plularisme,Liberalis) dalam kehidupan.

Diantara banyaknya agama didunia ini, hanya Islam dengan Al Quran dan Assunnah yang tak tergoyahkan ditengah kepingan hancurnya dasar dasar agama lain.

Banyaknya ilmu yang tergerus karena sedikitnya adab dan pemahaman yang sudah tidak menerima lagi wahyu atas fakta empiris, sehingga ini menjadi satu problematika akan umat manusia di masa sekarang dan di masa yang akan datang.

Penyair terkenal  Pakistan, Dr.Muhammad Iqbal, yang hidup pada tahun 1940-an, mengingatkan umat islam dalam sebuah puisinya, Bal-e-Jibril, bahwa Pendidikan barat modern membawa dampak terhadap hilangnya keyakinan anak muda muslim terhadap agamanya. Padahal, menurut Iqbal keyakinan adalah aset yang sangat penting dalam kehidupan seorang manusia. Jika keyakinan hilang dari diri seorang manusia, maka itu lebih buruk dari perbudakan.

***

Disisi lain umat islam sendiri memiliki banyak karunia dan keistimewaan dibanding dengan umat lainnya. Salah satunya ialah melimpahnya perbendaharaan referensi hukum islam yang ditinggalkan generasi salafnya. Warisan kitab-kitab fikih yang ditulis para ulama begitu melimpah, menjelma harta karun yang tak ternilai dengan uang berapapun. Maka dari sini, sebenarnya -dan seharusnya- umat ini ialah umat yang kaya raya dan terdepan dalam budaya literasi.

Cakupan ilmu fikih itu luas sekali. Para ulama biasa membaginya dalam empat bab besar; fikih ibadah, muamalah, keluarga, dan peradilan islam. Okelah jika dalam perkara ibadah mahdhoh (seperti salat, zakat, puasa dan haji) bisa dikatakan selesai. Prinsip-prinsip dasarnya telah dirumuskan dan hampir tidak ada beda antara zaman dahulu hingga sekarang. Kecuali hal-hal kecil yang lebih kepada sarana dan teknis yang sederhana. Tapi bagaimana dengan bab muamalah? kehidupan manusia sangat dinamis yang meniscayakan perkembangan muamalah yang terjadi sangatlah pesat. Perubahannya cepat bahkan dalam hitungan satu dua tiga empat jari saja.

Oleh karena itulah menjadi tidak heran jika banyak referensi fikih itu terangkum dalam kitab-kitab besar segede gaban yang berjilid-jilid. Ambil saja contoh mudahnya; ada kitab Nihayah al-Mathlab fii Dirayah al-Madzhab karya Imamul Haramain al-Juwaini (478 H) dalam 20 jilid besar. Juga ada Imam al-Mawardi (450 H) menulis al-Hawi al-Kabir dalam 22 jilid. Keduanya ini merupakan Syarh dari kitab Muhtashar al-Muzani (264 H). Tak ketinggalan kitab al-Majmu Syarh al-Muhadzdzab karya Imam al-Nawawi (676 H) ditulis dalam 27 jilid (beserta takmilahnya). Ini baru tiga kitab saja. Dan dalam madzhab Syafi’i saja. Belum kita sebut dari madzhab Hanafi, Maliki, Hanbali dll.

Memang kitab fikih tidak selalu tebal dan berlapis-jilid. Ada juga yang tipis, ringan yang bisa selesai dibaca sekali duduk. Biasanya dalam bentuk matan (bukan mantan) ringkas yang langsung berisi kesimpulan-kesimpulan fikih. Dengan bahasa yang mudah dan singkat. Tanpa disertai dalil dan diskusi panjang lebar. Kitab matan ini diperuntukkan bagi pembelajar fikih level beginner; para penuntut ilmu fikih yang pemula. Misalnya kitab Matan al-Ghoyah wa al-Taqrib karya Imam Abu Syuja (593 H). Juga Matan Qurah al-Ain oleh Syaikh al-Malibari (987 H). Atau matan Safinah al-Najah karangan al-Alim Salim bin Samir al-Hadhrami. Lagi-lagi ini baru tiga kitab saja. Dan dalam madzhab Syafi’i saja. Belum kita sebut dari madzhab Hanafi, Maliki, Hanbali dll.

Intinya, kita harus Menjunjung Etika, banyak bersyukur kepada Alloh Ta’ala dan berterima kasih beribu ribu kali kepada para ulama fuqaha, baik yang di timur dan barat. Fuqaha yang salaf dan khalaf yang telah mencurahkan segalanya dalam pengabdian terhadap Al-Quran dan al-Sunnah; menafsirkan, menjelaskan, mendudukkan permasalahan, merinci, menyederhanakan, kemudian menuangkannya dalam budaya literasi yang mumpuni.

Lewat ucapan dan tulisan merekalah kita tahu bagaimana perkara syariah ini. Dan yang tak kalah penting, lewat karya merekalah kita tahu kapasitas dan kapabilitas diri. Ternyata selama ini kita bukanlah siapa-siapa. Dan ternyata sejauh ini kita tidaklah mengerti apa-apa.

Bermula dari sini, Etika yang selalu terdepan mengantarkan kita pada bahasan, ruang belajar dan diskusi bermanfaat dalam kehidupan.

Wallohu’alam

 

*Pendidik Al Qur’an, Sistem Informasi Yayasan Al-Ihsan Kebagusan

Bagikan