Catatan untuk Seorang Da’i

 

Oleh: Zeinal Arifin, Lc.*

Jika pohon yang meranggas itu adalah kerajaan kita dan yang berteduh dibawahnya adalah ayahmu, Walang Sungsang, apakah kau akan tetap merobohkannya?

Cuplikan drama ketegangan antara Prabu Siliwangi dan anaknya, Walangsungsang, seolah masih terngiang ditelinga kita. Walangsungsang yang telah mendapatkan hidayah berupa agama baru, Islam, melihat bahwa tatanan hidup kerajaan ayahnya harus segera dirubah; dari Hindu menjadi Islam. Namun, sang ayah tetap pada pendiriannya. Menurutnya, semua agama adalah sama. Meski dalam praktek ritualnya berbeda, namun mengarah pada satu muara, yaitu sang Pencipta.

Tak terelakan lagi, gerbang perang darah antara ayah dan anak yang berbeda keyakinan ini semakin terbuka. Langit semakin mendung. Awan hitam berarak. Seolah tak sabar ingin menumpahkan semua titipan beban yang ada padanya. Sungguh, Walangsungsang dihadapkan pada pilihan yang sulit, misi dakwah yang diembannya ternyata harus berhadapan dengan ayahnya sendiri.

***

Dakwah berarti mengajak. Mengajak manusia kembali pada jalan yang telah ditetapkan Allah jauh sebelum manusia diciptakan. Sejak zaman azali, manusia telah mengikat perjanjian dengan Allah bahwa mereka akan tunduk, patuh dan bersaksi bahwa hanya Allah-lah yang wajib mereka sembah. Namun dalam perjalanan hidupnya, banyak manusia yang menyimpang dari perjanjian ini. Disinilah fungsi dakwah, mengajak manusia kembali ke jalan yang benar.

Dalam berbagai kisahnya, dakwah memang penuh pengorbanan; harta, tenaga bahkan nyawa! Dakwah selalu berhadapan dengan rintangan; masyarakat, tetangga, saudara bahkan anak dan orangtua bisa menjadi onak duri yang menghalangi perjalanan dakwah. Nabi Luth, misalnya, harus berpisah dengan istri dan anak tercintanya. Nabi Ibrahim harus berseberangan dengan ayahnya. Nabi Musa harus bertikai dengan ayah angkatnya. Bahkan Nabi Muhammad harus berperang melawan pamannya yang tetap keras hati menghambakan diri kepada kesyirikan.

Bukan hal yang mudah ketika kita harus bersinggungan dengan orang-orang terdekat. Resiko dikucilkan, dibenci dan dimusuhi menjadi harga yang harus dibayarkan. Akan tetapi, apapun resikonya, dakwah harus tetap berjalan sebagaimana perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “dan berilah peringatan kepada keluarga-keluargamu yang terdekat.” Allah juga berfirman, “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Perintah ini begitu tegas. Tidak menerima tawar menawar. Meski dalam pelaksanannya, Allah mewanti-wanti agar setiap da’i bersikap dan bertutur dengan lembut, sebagaimana perintah Allah kepada Nabi Musa agar bertutur santun kepada Firaun, sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim yang bersikap begitu lembut kepada Azar. Itupula yang dinasehatkan Luqman Al-Hakim kepada putranya, agar seorang anak selalu berbuat baik kepada orangtuanya meskipun mereka musyrik dan mengajak anaknya pada kesyirikan.

Inilah jalan dakwah. Jalan yang harus dilalui semua manusia yang digelari “khairu ummah”. Gelar yang disematkan kepada semua muslim, karena tugas dakwah bukanlah kewajiban kalangan tertentu saja, akan tetapi ia adalah tugas umat, siapapun dia yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sesuai dengan posisi dan kapasitasnya masing-masing.

Mari kita baca ulang firman Allah,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)

Tegasnya, dakwah adalah tanggung jawab bersama. Sebodoh apapun manusia, seprimitif apapun peradaban suatu kaum, pasti menyisakan nilai kebaikan yang bisa diajarkan kepada orang lain. Sampaikanlah meskipun hanya tahu satu ayat.

*Pendidik mata pelajaran Fiqh Islam, Sekretaris Yayasan Al-Ihsan Kebagusan

Bagikan